Kamis, 23 Agustus 2012

Benarkah Beruang Memiliki Kebiasaan Tidur Panjang?


Di negeri yang memiliki empat musim, beberapa hewan, seperti beruang memiliki kebiasaan tidur panjang selama musim dingin. Hal tersebut disebut tidur panjang karena waktu tidurnya memang sangat lama, yakni antara 3 hingga 4 bulan lamanya.

Mengapa meraeka tidur panjang? Ini disebabkan, pada musim dingin, hampir semua pepohonan akan kehilangan daun, dan dahan-dahannya membeku ditimpa salju dan terpaan hawa dingin. Begitu pula, danau dan sungai akan dilapisi es tebal yang membeku di atas permukaanya. Tentu saja persediaan makanan bagi hewan-hewan pemakan tumbuhan ataupung hewan-hewan pemakan daging menjadi langka.

Bila hewan-hewan ini tetap aktif bergerak selama musim dingin yang begitu panjang, tentu saja mereka akan mudah sakit dan bahkan mati kelaparan, sebab bergerak aktif membutuhkan pasokan energi yang cukup besar yang hanya bisa diperoleh dari sejumlah besar makanan.

Karena beruang akan mengalami kesulitan mencar makanan di musim dingin, maka beruang diberi kemampuan tidur panjang. Mereka benar-benar tidur, bahkan sangat terlelap, sehingga satu dua suara berisik kecil disekitarnya pun tidak akan menggangu tidur lelapnya. Paling-paling, ia hanya mengangkat kepala, melenguh sedikit, untuk kemudian tertidur kembali.

Uniknya, dalam tidur panjangnya tersebut, beruang berada dalam posisi menelungkup atau bergulung selama berbulan-bulan lamanya tanpa berpindah-pinda posisi sama sekali, dan ini tidak membuat beruang merasa sakit atau pegal-pegal. Padahal, kalau manusia tidur cukup lama, beberapa jam saja, bertukar-tukar posisi badan, pasti akan merasa sakit dan pegal-pegal karena otot terhimpit dan aliran darah tidak lancar.

Namun, tubuh beruang memiliki zat kalsium khusus yang membantu sel-sel ototnya untuk selalu lentur dan siap menahan beban tubuh beruang selama ia tidur panjang. Beruang pun tidak akan merasa kelaparan karena lemak di tubuhnya akan diserap sedikit demi sedikit menjadi pasokan energi yang cukup membuatnya bertahan hidup dan sehat.

Rabu, 22 Agustus 2012

Benarkah Beruang Kutub adalah Hewan pemangsa Terbesar di Darat?


Kalian pernah melihat beruang kutub di televisi? Menurut kalian, apa warna bulunya? Apakah kalian menjawab putuh? Kalau ya, berarti kalian salah terka. Pasalnya, warna bulu hewan pemangsa itu sejatinya bening seperti kaca. Tetapi, karena pantulan dari es, maka warna tersebut terbias menjadi putih.

Warna bulu merupakan salah satu persepsi keliru terhadap beruang kutub. Ada kekeliaruan lainnya, yakni banyak orang menduga beruang kutub hidup di lapisan es. Padahal, tidak demikian. Binatang pemangsa anjing laut itu lebih banyak menghabiskan waktu dengan berenang di laut, hanya sesekali saja mereka berada di lapisan es yang dingin.

Lalu, benarkah beruang kutub adalah hewan pemangsa terbesar yang hidup di darat? Ya, beruang kutub memang merupakan pemangsa terbesar yang hidup di darat. Bayangkan saja, bobot tubuhnya bisa mencapai satu ton. Bandingkan dengan bobot manusia yang paling berat hanya berkisar seratus kilogram.

Beruang kutub memiliki daya penciuman yang tajam. Ia bisa membaui anjing dari jarak 1,6 km. Bahkan, meski mangsanya itu mengubur diri di bawah lapisan es. Selain anjing laut, makanan favoritnya adalah ikan duyung dan beruang laut.

Masa hidup beruang kutub sekitar 15 tahun hingga 18 tahun. Sang betina mulai melahirkan anak pada usia 4 hingga 5 tahun. Seumur hidup, induk betina hanya melahirkan paling banyak 5 anak. Bayi beruang disebut cub. Bayi beruang dilahirkan dalam liang es atau gua.

Beruang kutub hanya dijumpai di kutub utara. Tak ada binatang serupa di kutub sealatan. Mereka menempati lima wilayah di lima negara, yakni Denmark (Green Land), Norwegia, Rusia, Amerika Serikat (Alaska), dan Kanada.