Kamis, 18 Juli 2013

Bagaimana Bunglon Mengubah Warna Kulitnya?


Kalian pernah melihat bunglon? Bunglon adalah reptil yang memiliki keunikan yang menakjubkan. Ia mampu mengubah warna kulitnya. Warna asli tubuhnya adalah hijau. Namun, dalam keadaan tertentu, ia akan mengubah warna kulitnya menjadi kecokelatan atau kehitaman. Bagaimana bunglon mampu mengubah warna kulitnya?

Semua itu bermula  dari chromataphores, yaitu sel yang ada di bawah kulit bunglon. Sel ini sangat sensitif terhadap perubahan cahaya, suhu, bahkan mood sang bunglon. Chromataphores tersimpan dalam dua lapisan yang memuat pigmen-pigmen warna. Lapisan atas memuat pigmen merah dan kuning. Sedangkan, lapisan bawah mengandung pigmen biru dan putih.

Ketika rangsangan muncul, otak bunglon mengirim pesan kepada chromataphores. Lalu, pesan ini diterjemahkan sebagai perintah agar sel-sel chromataphores membesar atau menyusut. Akibatnya, pigmen-pigmen tersebut saling bercampur. Maka, sekujur tubuh bunglon pun bersinar aneka warna, tergantung warna dominan di dekatnya. Warna-warna di sekeliling bunglon memancarkan cahaya. Cahaya itu ditangkap chromataphores yang amat sensitif dan memicu pergolakan pigmen-pigmen.

Perubahan warna kulit juga tergantung dari suasana hati bunglon. Jika sedang tenang, warna yang tampak adalah hijau karena sel kuningnya tidak terlalu melebar, sehingga masih bisa memantulkan sel biru dari bawahnya. Pada bunglon yang marah, warna yang tampak adalah kuning karena selnya melebar, sehingga tidak menampakkan refelsi warna biru. Proses perubahan warna itu terjadi dalam hitungan 1-2 menit. Perlu diketahui bahwa bunglon tidaklah bisa berubah kulit ke semua warna, melainkan hanya warna-warna tertentu saja. Perubahan kulit terjadi sebagai respons atas suhu, cahaya, dan mood atau emosinya.

Penampilan bunglon sepintas mirip kadal.Namun, bunglon jauh lebih hebat ketimbang kadal. Selain memiliki kemampuan mengubah warna, bunglon menjadi satu-satunya reptil yang memiliki kaki penjepit. Cengkeraman kaki ini sangat cocok untuk mendaki pohon yang menjadi tempat tinggalnya, meski pergerakan tubuhnya sangat lambat.

Bunglon juga memiliki kekhasan luar biasa, yaitu lidah yang sangat panjang. Panjang lidahnya bisa dua kali panjang tubuh, dilengkapi cairan kimia yang sangat lengket. Cairan ini berguna untuk menyambar mangsa, yang sebagian besar adalah serangga.

Sabtu, 15 September 2012

Tahukah Kalian, Lidah Bunglon Lebih Cepat daripada Pesawat Jet Tempur?

Buku-buku zoologi menjelaskan bahwa lidah balistik bunglon diperkuat oleh seutas otot pemercepat (akselerator). Otot ini memanjang ketika menekan ke bawah pada tulang lidah, yang berupa tulang rawan kaku di tengah lidah, yang membungkusnya. Akan tetapi, dalam sebuah penelitian yang telah disetujuai untuk diterbitkan oleh majalah ilmiah, Proceedings of the Royal Society of London (Series B), dua ahli morfologi yang mempelajari kebiasaan makan bunglon menemukan unsur-unsur lain yang terkait dengan gerakan cepat lidah binatang ini.



Kedua peneliti Belanda ini, Jurrian de Groot dari Universitas dan Johan van Leeuwen dari Universitas Wageningen, mengambil film-film sinar Xberkecepatan tinggi, yakni 500 bingkai perdetik, dalam rangka menyelidiki bagaimana lidah bunglon bekerja ketika menangkap mangsa. Film-film ini menunjukkan bahwa ujung lidah bunglon mengalami percepatan 50 g (g = konstanta gravitasi). Percepatan ini lima kali lebih besar daripada yang dapat dicapai oleh sebuah jet tempur.

Para peneliti ini membelah jaringan lidah dan menemukan bahwa otot pemercepat sama sekali tidak cukup kuat untuk menghasilkan gaya yang diperlukan ini sendirian. Dengan meneliti lidah bunglon, mereka menemukan keberadaan sedikitnya 10 bungkus licin di antara otot pemercepat dan tulang lidah. Bungkus-bungkus ini-yang melekat ke tulang lidah di ujungnya yang terdekat dengan mulut-mengandung serat-serat protein berbentuk spiral. Serat-serat ini memadat dan berubah bentuk ketika otot pemercepat mengerut dan menyimpan tenaga bagaikan seutas pita karet yang tertekan. Ketika mencapai ujung bulat tulang lidah, bungkus-bungkus yang ketat dan memanjang ini secara bersamaan menggelincir dan mengerut dengan kuat dan melontarkan lidah.

Secepat serat-serat ini menggelincir dari tulang lidah, bungkus-bungkus saling memisahkan diri bagaikan tabung-tabung sebuah teleskop, dan karena itu lidah mencapai jangkauan terjauhnya. Van Leewen berkata, "Ini adalah ketapel teleskopis".

Ketapel ini memilik ciri lain yang amat menyolok. Ujung lidah mengambil bentuk hampa pada saat menghantam mangsa. Ketika terlontar, lidah ini dapat menjulur sejauh enam kali panjangnya ketika istirahat di dalam mulut, dan dua kali panjang tubuh bunglon itu sendiri. Hebat sekali, ya..!!!